Postingan

Menampilkan postingan dari 2009

Kasih Ibu buat Si Gundul

Gambar
Kasih ibu sepanjang jalan, begitu pepatah lama. Dan bagi si ibu ini, bukan hanya itu tapi kasihnya buat si gundul sepanjang masa. Ya, dengan senyum dan silet tajamnya, dibersihkan rabut demi rambut yang tumbuh di kepala sang anak yang subur itu. Sebuah pemandangan unik yang tak bisa ku abaikan ketika pas melintas di Jalan dekat Apotik Kimia Farma utar Pompa Bensin Pacific Mall, Kota Tegal, beberapa bulan lalu. (Foto Karya: Agus Wijanarko)

Antara Hidup dan Mati

Gambar
Airmata belum mengering dari matanya yang terpejam. Rasa sakit berkali-kali lipat hingga membius perasaan bocah kecil yang terbaring di perawatan RSU Kardinah ini. Dari selang darah terlihat membanjir. Betapa sakit ditahan hingga air mata terus menetes dari ujung selaput matanya yang paling kecil. Nafas tersengal, badan panas bak bara api. Sebuah perjuangan anatara hidup dan mati melawan Demam Berdarah. Siapa yang salah! Inikah kotaku, kota yang penuh dengan nyamuk-nyamuk pembawa maut? Maka dari itu kawan, waspadalah, di kala kota kita tertidur dan tak mampu mengusir nyamuk. (foto dan teks : Agus Wijanarko)

Api dan Politik

Gambar
Tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, tapi bagaimana dengan Api? Yah, sebenarnya api hanya ada di dalam tungku, korek api, pembakaran batu bata dan etntah dimana. "Cuah! Omong kosong!" api juga ada di jalanan, dengan melahap toko-toko bahkan mobil merah menyala. Inikah politik! Yang dari kata-katanya mengepulkan asap dan bau gosong bendera dan umbul-umbul yang menjadi lambang-lambang partai.. Sebuah kisah satu jam di Jalan Setiabudi, 6 tahun lalu. (Foto Karya: Agus Wijanarko)

Menunggu Kematian Para Abang Becak

Gambar
"Edan!" teriak seorang tua yang duduk di atas becaknya. Sudah seharian tak satupun penumpang menghampiri. rasa lapar ditahannya. Hari-hari panjang bak Ramdhan. "Perutku melilit dan istriku menangis karena tungku tak bisa dinyalakan!" seringainya dengan mengusap dahi yang tak lagi mengucurkan keringat. Inilah detik-detik kematian para abang becak di Kota Tegal. Sebuah kota yang pernah menjadi 'pengekspor' becak-becak pengepung . Namun, kini kayuh pedalnya tak lagi terdengar. "Juuuaaahhh!" pria tua itu meludah mengumpat sepeda motor-sepeda motor yang berseliweran di depannya. Ya, ini dampak dari harga motor murah yang telah membungkam pelangganya menjauhi becak. Dan kini kematian benar-benar di depan mata ... (Foto Karya : Agus Wijanarko)

Sang Orator

Gambar
Dari sela sepatu lars, suaranya lantang terdengar. Kata-kata mengganas mendidihkan ubun-ubun yang sudah gosong oleh teriknya panas mentari. Keringat diantara poster-poster berbaur menjadi nyawa sebuah gerakkan. Ya, gerakan bukan Ganyang Malaysia atau Ganyang PKI, tapi sebuah nafas demokrasi di Kota Tegal. Saat itu, halaman kejaksaan adalah saksi dari para sang orator menggedor gedor batin. Bak palu godam pande besi menempa baja panas untuk disulap pisu.. (Foto Karya : Agus Wijanarko)

Sampan Diujung Tanah Mengering

Gambar
Pasar, nun jauh di seberang. Namun serasa dekat karena setumpuk kebutuhan. Walau air memisahkannya, namun sampan siap membawanya ke seberang. Jerigen minyak sayur dan selendang untuk menggendong barang, adalah teman setia selama perajalanan. Tatkala sampan menyambut di air yang surut... Ku siapkan dengan kaki menyentuh air, untuk menuju suatu harapan. Inilah sepenggal kisah Sampan di ujung tanah yang gersang, Cacaban. (foto karya : Agus Wijanarko)

Komidi Putar

Gambar
Udara dingin tak mampu menahan derasnya keringat. Buuaaah.., ludah dibuang dan nafas tersengal-sengal. Kaki terus mengayuh cepat dan cepat..
Seperampat jam sudah komedi putar itu meliuk-liuk diudara. Membantuk lingkaran teratur dengan suara keceriaan anak-anak yang tertimpa musik yang membisingkan telinga..
Di sudut Taman Poci, depan Stasiun KA tegal, komodi putar itu digenjot Tarjo, seorang pria yang bertanggungjawab atas dapur istrinya.. (foto karya : Agus Wijanarko)