Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

Api dan Politik

Gambar
Tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, tapi bagaimana dengan Api? Yah, sebenarnya api hanya ada di dalam tungku, korek api, pembakaran batu bata dan etntah dimana. "Cuah! Omong kosong!" api juga ada di jalanan, dengan melahap toko-toko bahkan mobil merah menyala. Inikah politik! Yang dari kata-katanya mengepulkan asap dan bau gosong bendera dan umbul-umbul yang menjadi lambang-lambang partai.. Sebuah kisah satu jam di Jalan Setiabudi, 6 tahun lalu. (Foto Karya: Agus Wijanarko)

Menunggu Kematian Para Abang Becak

Gambar
"Edan!" teriak seorang tua yang duduk di atas becaknya. Sudah seharian tak satupun penumpang menghampiri. rasa lapar ditahannya. Hari-hari panjang bak Ramdhan. "Perutku melilit dan istriku menangis karena tungku tak bisa dinyalakan!" seringainya dengan mengusap dahi yang tak lagi mengucurkan keringat. Inilah detik-detik kematian para abang becak di Kota Tegal. Sebuah kota yang pernah menjadi 'pengekspor' becak-becak pengepung . Namun, kini kayuh pedalnya tak lagi terdengar. "Juuuaaahhh!" pria tua itu meludah mengumpat sepeda motor-sepeda motor yang berseliweran di depannya. Ya, ini dampak dari harga motor murah yang telah membungkam pelangganya menjauhi becak. Dan kini kematian benar-benar di depan mata ... (Foto Karya : Agus Wijanarko)

Sang Orator

Gambar
Dari sela sepatu lars, suaranya lantang terdengar. Kata-kata mengganas mendidihkan ubun-ubun yang sudah gosong oleh teriknya panas mentari. Keringat diantara poster-poster berbaur menjadi nyawa sebuah gerakkan. Ya, gerakan bukan Ganyang Malaysia atau Ganyang PKI, tapi sebuah nafas demokrasi di Kota Tegal. Saat itu, halaman kejaksaan adalah saksi dari para sang orator menggedor gedor batin. Bak palu godam pande besi menempa baja panas untuk disulap pisu.. (Foto Karya : Agus Wijanarko)

Sampan Diujung Tanah Mengering

Gambar
Pasar, nun jauh di seberang. Namun serasa dekat karena setumpuk kebutuhan. Walau air memisahkannya, namun sampan siap membawanya ke seberang. Jerigen minyak sayur dan selendang untuk menggendong barang, adalah teman setia selama perajalanan. Tatkala sampan menyambut di air yang surut... Ku siapkan dengan kaki menyentuh air, untuk menuju suatu harapan. Inilah sepenggal kisah Sampan di ujung tanah yang gersang, Cacaban. (foto karya : Agus Wijanarko)

Komidi Putar

Gambar
Udara dingin tak mampu menahan derasnya keringat. Buuaaah.., ludah dibuang dan nafas tersengal-sengal. Kaki terus mengayuh cepat dan cepat..
Seperampat jam sudah komedi putar itu meliuk-liuk diudara. Membantuk lingkaran teratur dengan suara keceriaan anak-anak yang tertimpa musik yang membisingkan telinga..
Di sudut Taman Poci, depan Stasiun KA tegal, komodi putar itu digenjot Tarjo, seorang pria yang bertanggungjawab atas dapur istrinya.. (foto karya : Agus Wijanarko)