Menunggu Kematian Para Abang Becak


"Edan!" teriak seorang tua yang duduk di atas becaknya. Sudah seharian tak satupun penumpang menghampiri. rasa lapar ditahannya. Hari-hari panjang bak Ramdhan. "Perutku melilit dan istriku menangis karena tungku tak bisa dinyalakan!" seringainya dengan mengusap dahi yang tak lagi mengucurkan keringat. Inilah detik-detik kematian para abang becak di Kota Tegal. Sebuah kota yang pernah menjadi 'pengekspor' becak-becak pengepung . Namun, kini kayuh pedalnya tak lagi terdengar. "Juuuaaahhh!" pria tua itu meludah mengumpat sepeda motor-sepeda motor yang berseliweran di depannya. Ya, ini dampak dari harga motor murah yang telah membungkam pelangganya menjauhi becak. Dan kini kematian benar-benar di depan mata ... (Foto Karya : Agus Wijanarko)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Hidup dan Mati

Kasih Ibu buat Si Gundul